Rabu, 27 Januari 2010

THAT ANGEL COMES (AGAIN)

06:26:51pm
25/01/2010
Ren,.
Q minta maaf ya..
Q akhir2 ni srg gangguin km mulu,.
Q gtw kang.. Hawa.ne pngen sms km mulu.h0h0..
Maapkan aq ya kang..

Short Message from you looked strange. The one guy who I wait his presence, his Short Message, his call, why did have to feel that your presence disturb me? You didn’t remember when I was in a trouble; I sent you 2 or more screen for you?

06:42:26pm
25/01/2010
Gpp ya ren,.
Mumpung km lum dpt pengganti dy..
Nek dah da cow lg kan q dah gbs sembarangan sms km truz kyk gini.he..

My feeling was mixed. I don’t wanna look for subtituter. I only waited my angel went down. I didn’t know who my angel is, but you’re “guy with invisible angel” that I hope. I felt it just a dream, day dream. I ever had you disappointed twice, maybe more. Lucky me when you’re still able to communicate with me. Nonsense if you looked at me just like a year ago. In my mind, angel didn’t come twice. You’re “guy with invisible angel” who I ever let go.

08:46:54pm
25/01/2010
Malaikat itu tak kan pergi kang,.
Dy juga gmw.. Khlangan km..
Dy syg bgtz kang ma km…


I didn’t suppose you still like a year ago. An angel I waited for actually is still with you. A friend who became my sharing spot if I had a problem with my boyfriend (ex-boyfriend now), who accompany me (via mobile phone) if I was almost crying when my (ex) boyfriend did unfair. I didn’t realize all of you did is just for the sake of communicating with me. I can’t imagine how pained he is when I told him “I love my boyfriend so much, I miss him, I will always understand him…” T.T

I do understand what you feel. I ever had felt like that, a year ago. Suffering about a year because of hears my story is enough, sweetheart. I thought I was the strongest person, haa, that’s wrong. You’re stronger, I just like a little pieces.

You’re not “guy with invisible angel”, you’re “Angelish man”. Thanks a lot…

Thanks, sweetheart. Thanks God. I will always try and try to make you keeping smile. I won’t never let you hurt. You’re the one who I look for.

Senin, 11 Januari 2010

“ALONE, I’M LONELY”

Duduk sendiri di bawah sebatang pohon Sengon besar. Taman perpus terasa asing saat ini. Entahlah, atau hatiku yang sedang mengasingkan diri dari feel of daily habits.

I feel lost, oh maybe I get lost. Away from him make me feel that I am not my self. There’s a big empty space, like a hole in my heart. Bukan karena aku kehilangan dia, aku merasa kehilangan cintanya. Itu gag seberapa, karena itu dah kurasakan lumayan lama. The empty space is “I lost a figure that most I love”. When the most I loved becomes the most I hate, whom I love then?

Now I realize, yang kuinginkan dari dia bukan cintanya, tapi rasa yang ku miliki untuk mencintainya. Dulu, aku tak merasa sehilang ini, walaupun dia dengan orang lain, with many ladies, tapi aku tetap bisa tersenyum. Karena aku tetap sayang dia dan dia tahu apa yang kurasakan tanpa harus menyakiti perasaan orang lain.

That’s the difference. I loved him, now not anymore, I think. That’s make me feel so down. Aku ingin bisa mencintai seseorang lagi, like I loved him. Mau dia atau bukan, terserah. Yang penting gag membuatku jadi ilfil dan benci.

Aku ingin punya seseorang yang bisa kupercaya dan mempercayaiku lagi. Yang bisa buatku ceria dan ku buat ceria. Yang bisa melindungi ku dan yang bisa nyaman jika didekatku. Bukan cuma kali ini aku jomblo, tapi baru kali ini aku ngrasa benar-benar sendiri. Gosh… where am I?

Aku ingin kembali ke waktu aku kelas XI SMA. Aku ingin menangis karena dia, bukan menangis karena kehilangan rasa mencintainya. kehilangan rasa cinta gag bisa ku ungkapkan lewat air mata.

Kalau gini terus, hidupku gag beda ma rumput…

Selasa, 22 Desember 2009

Ita said, “Nginep di rumahku yukk!”

Tuesday, December 15th 2009

Aku dan v berencana nginep di rumah ita (Ungaran) setelah meeting Fresh*. Kita janjian ketemu di kontrakkan Zaky, Pupu-nya v. Motor yang mau dibawa di kontrakkannya Pupu sih. Sampai di kontrakkan Pupu (Zaky maksudnya..), jdeeer! Breeezzz… Hujan deras disertai petir dan halilintar. Omaigaddd…

Kami bertiga berteduh dulu deh di kontrakkan Zaky. Keadaannya gag memungkinkan kalo nunggu di teras. Secara aku dan v takut petir. Mau di dalam, gag ada ruang tamunya. Suker nemen!

Tapii atas kebaikan Zaky, kami bertiga disuruh masuk di kamar Zaky, dan si Zaky tiduran di kamar seniornya. “Gag papa, sepi koq. Kalo mau nonton TV dinyalain aja…”

Alhamdulilah…

Kami kira hujan akan segera berhenti. Tapi ternyata, ampe penghuni kontrakkan lain pada pulang, masih deras berpetir aja.

Lagi asik nonton TV… Jdeeeer! Peeett. Mati lampu. Menjerit deh…

Lilin habis… Hujan deras pula. Bergelap-gelapan. Sampai tiba waktu sholat magrib.

Aku : “Zaky punya mukenah gag…?”

Ita : “Loe kira Pupu AC-DC?”

V :”Sholatnya ala ninja aja… V dapet ilmunya dari Pupu. Tapi nunggu Pupu ma Mas-Mas lainnya sholat ya.”

Selesai sholat, Zaky ngasih kita 2 potong sarung. Lalu V mpraktekkin how to use it. At first, sarung dipake di bawah, seumumnya orang make sarung tapi ampe telapak kakinya tertutup. And then, sarung satunya di pake buat mukena atasan. Ini sih bukan ninja, tapi maliiing…

Wah, Zaky kreatif juga.. Tapi Ita malah curiga, jangan-jangan Zaky kadang-kadang sholat pake mukenah ninja? Gubbraak!

Hujan belum reda juga. Sampai kami kelaparan.

“Kalian pengen makan apa? Penyet ayam, tempe, telur, dipilih-dipilih…” Zaky menawari makanan tapi belum ada wujudnya.

“Kamu mau beli di mana?” Ita Tanya.

“Warung langganan biasa, depan BNI…”

“Hujan gini…” aku nanggapi.

“Kan ada Jas Hujan.”

“Okelah kalo begituuu. Aku kayak biasa..” V request.

“Aku teluuur!” aku n ita nambahi.

Wah, Zaky baik deh…

Sambil nunggu makanan, kita ngrumpi.

“Kita konyol banget ya. Hujan petir, mati lampu, di kontrakkan cowok. Di kamar lagi!” Itta nyeloteh.

“Wah, kalo aku sendirian gag kuat mental ni, lihat manusia-manusia berambut cepak sebanyak ini (4 orang tok koh..)” V nambahin.

Aku : “Weh, aku gag inget kalo ini kontrakkan cowok! Waduw…”

Dziiig!

Di kamar Zaky gag ada cowoknya sih, dah kami booking kamarnya. Hehehe…

Beberapa waktu kemudian…

“Kenyang….” Kami dah selesai makan.

“Kalian bener mau ke tempat ita sekarang? Besok aja…” bujuk Zaky.

“Tapi konyol banget kalo aku pulang…” aku njawab sambil megang tas. Sebenarnya sih aku bawa barang dikit. Tapi gara-gara laptop juga ku bawa, jadi pakenya tas yang lebai.

“Aku juga pasti diketawain.” V nambahi.

“Reni ma Mumu kan belum tahu medannya, gimana kalo Reni boncengan ma ita aja, V gampang besok dijemput. Kan besok ada kuliah juga.” Zaky explained.

Kami saling pandang dan berpikir.

“Okelah kalo begituu.” Jawab kami.

Akhirnya aku ma Ita pulang dengan bentuk yang gag oke. Kita berdua pake jas hujan gede, ita pake jas hujan atasan dan bawahan, dan aku pake jas hujan kelelawar, n nyeker*. Udah gitu, mampir ke SPBU lagi. Yang ngisi’in bensin aja ampe mukanya merah nahan tawa. Asemm… konyol sih, tapi akan lebih konyol kalo kami kehabisan bensin dan terpaksa nuntun…

Wednesday, December 16th 2009

Aku dan Ita ada kuliah pukul 11.00. Sebelum kuliah, kami nyuci motor dulu. Motor Ita gag berbentuk banget gara-gara kehujanan semalam sih…

Pukul 10.30 kami berangkat. Tapi gag jauh dari rumah, breeezzz! Hujan sodara-sodara! Tapi demi ketemu Pak Widi, hujanpun kami terjang (gag lupa pake jas hujan,hehe…)

Belum sampai Gunungpati, we feel hot around us. Yap, cerah Ibu-ibu! Kami ngedumel.

“Siap-siap diejek temen-temen nih!”

Alhamdulilah, kami gag telat ampe kampus.

Kuliah selesai sudah.

Di rumah v…

“Nyok berangkat ke Ungaran sekarang. Ren, kamu bawa motorku, aku bonceng ita, allright?” kata V.

“My pleasure. Tapi mampir ke kost ku sek ya.” Aku request.

Sampai kost ku, gluduk gluduk, mendung. Omaigadd! Don’t tell we will soak trough again. Kami pakai jas sebelum hujan. Dan emang bener, kami kehujanan dari Patemon ampe rumah Ita.

*

Malam harinya, kami berencana nongkrong di Alun-alun Mini Ungaran. Alhamdulilah, kami pulang pergi gag kehujanan.

*

Esok harinya…

Kami ada kuliah pukul 02.30. seperti kemarin, kami nyuci motor dulu gara-gara kehujanan semalem. Alhamdulilah, cuaca cerah. Tapi waktu kami berangkat pukul 02.00…

HUJAN LAGI!

Tapi ampe Sekaran, panasss!

Udah ampe kelas telat, diketawain gara-gara basah lagi.

That’s enough!

Kami kapok untuk ke rumah Ita di hari itu.

Kamis, 08 Oktober 2009

TUKANG SAPU RUSUH



Kost lain banget ma rumah. Di kost aku harus tiap hari nyapu. Untung Cuma satu kamarma teras yang luasnya kira-kira 10 m². tapi namanya aja Kukang si Dudul. Ritual nyapu bisa jadi Gag Bangetz Moment.

Sebelum berangkat kuliah gag tahu kenapa tumben-tumbenan aku nyapu di pagi hari. Sret sret sret. Sampai teras kelar, debu-debu biasanya langsung ku buang dari terasku ke teras lantai 1. Bher bher bher! Debu-debu beterbangan. Kali ini bukan Cuma debu, ada sampah nya juga. Hihihhi, jorok! Kemudian, samar-samar terdengar langkah kaki di lantai 1. Tanpa sengaja ku lihat pak kost lagi jalan di teras lantai 1 sambil ngusap-ngusap rambutnya. Rambutnya berdebu dan ada bungkus permen di kepalanya! Omaigaddd!? Ternyata tadi di bawah ada pak kost lewat! GUBRAKK!!!

“Maaf, Pak! Gag lihat…” dan keheningan tercipta, no answer.

Suatu sore, sambil ngabuburit, aku nyapu balkon. Maklum, cowok ku yang gantengnya sejagad binatang mau ngapel. Aku nyapu sambil nyanyi-nyanyi gag jelas ala kucing laper. Bher bher bher. Debu ku buang gitu aja ke halaman kost. Selama nyapu, aku sedikit mikir. Di sini koq ada kerikil ya? Siapa ni yang maen batu? Ruri anak bu kost kah? Sambil nyapu, aku dengar bunyi klutuk-klutuk. Jadi sedkit merindong. Tiba-tiba, klotak! Aww! Siapa nih yang nimpuk?! Kayaknya ada orang usil dari halaman nih! (sebenarnya sih jalan raya setengah halaman,he…)

“Siapa yang buang sampah dari atas?!? Gua timpuk nih! Dagangan pada kotor tau!”

Astaganagabonar, ternyata tukang sate dan tukang bubur di bawah pelakunya. Sebagai bentuk penolakan atas debu yang ku buang. Gustii… jalan raya debunya lebih dahsyat! Kenapa gag nimpuk jalan raya sekalian? Lagian, ni bukan sampah om, tapi kerikil yang dilemparin ke atas.

“Iya, Bang! Maaph!!!”

Dan itu jadi hari terakhir aku nyapu balkon.

TI – KOST (TIKUS KOST)

Sumpah gag banget dapet kost yang punya penunggu bernama Tikus. Gag banyak sih, Cuma satu. Hah, terima sajalah! Toh Cuma one Rat, satu werog (tikus besar, bahasa Jawa).

Kost ku ini (punya nama paling asik, NO NAME) punya segudang cerita. Salah satunya tentang mBah Werog.

Di kost, dari sebulan aku di sini, emang udah ada mBah Werog, tikus besar yang cari makan di tempat-tempat sampah depan kamar kost (pastinya yang dapat dijangkau mBah Werog…). Mungkin karena emang udah menetap lama di kost-an, TKP tetap rapi walaupun isi tempat sampah udah diubek-ubek. Wah, tikus yang pengertian…

Kalau malam-malam, mBah Werog beraksi. Kalau ada suara “krusuk krusuk”, pasti ntu tikus ada di dalam tempat sampah cari sisa-sisa makanan. Nanti kalo disamperin, gag bersuara. Diem dah! Mbak-mbak kost biasanya suka usil. Mereka menggertak, “HEH! HEYH! HEGH!” Nanti mBah Werog keluar dengan sendirinya dan berjalan dengan santai. Maklum, tikus tua, botak lagi (gag kalah ma Pak Nano. Hehehe.. Piss Pak..). Pokoknya busuk bin buluk banget.

Untungnya mBak-mBak kost gag pada phobia tikus. Jadi mereka akur-akur aja gitu.Halah! kadang mereka Cuma nyumpahin kalo mBah Werog berulah. Mbah werog gag pernah biarin tikus lain ada di wilayah kekuasaaannya. Untung rival-nya tikus-tikus ukuran standar. Coz sumpah, mBah werog is so BIG! Seukuran kelinci mungkin. Biasanya, rival-rivalnya itu jadi korban mutilasi mBah Werog. Dibunuh, tapi gag dimakan, Cuma di ambil jeroannya doing, tepatnya mengambil hati. (ceilee…). I don’t know what’s for, Tapi kata mBak-mBak kost, hatinya ntu berguna buat menambah keperkasaan si Werog. Obat kuat dong? =p Buset… kayaknya mBah Werog dah pernah curhat deh.

Oww, and then potongan-potongan tubuh si tikus mati dibagi-bagi ke kami. For example: kepala di samping kamar mBak Ratna dan badan di depan kamar mandi luar. Ngumpat-ngumpat deh yang kebagian jatah. Mau gag mau harus ngebersihin. Jijik… Untung aja mBah Werog belum pernah menginjakkan kakinya ke dalam kamar. Secara, mana bisa? Hehehe.

Tapi sekarang penghuni kost udah gag pernah lihat mBah Werog lagi. Kayaknya mBah Werog kalah ma rival-nya dan kemungkinan mBah Werog dah tewas. Coz ada penggani mBah Werog, tikus yang ukurannya gag jauh bda ma Mbah Werog. Tapi ntu tikus bego banget, gag punya sopan santun! Gara-gara ntu tikus sampah jadi berceceran di mana mana tidak. Ada yang di keset, di tempat sandal, pokoknya kalo bangun tidur, tempat sampah kayak habis kena bom!

Ah, ke mana kao mBah Werog? Karena mu, gag ada sampah yang membusuk di tempat sampah depan kamar… di kuras melulu sih.

Jumat, 25 September 2009

Sebuah Kisah (Cosmic)


Terpejam membayangkan dirimu
Yang kini pergi bersama kenangan

Berjalan walau tak terkendali
Sulit terima semua yang terjadi

Apa bila ini akhir
Dari semua kisah kita
Yang kau inginkan

Keputusanmu menghancurkan mimpi indahku dan juga hatiku

Jujur tak mampu ku menepis s'mua luka yang t'lah kau berikan untukku

*untuk seseorang yang telah ku sakiti. I'm so sorry... :(

Jumat, 21 Agustus 2009

DUPAT SI IKAN SEPAT



Tiap pagi, aku selalu iri lihat adikku, teman-temanku, berangkat sekolah pake seragam OSIS SMA. Emang bener kata pendahulu-pendahuluku, masa-masa SMA adalah masa sekolah yang paling dirindukan. Entah kenapa bisa jadi yang paling dirindukan. Apa karena ada jeda yang cukup lama antara lulus SMA dengan masuk kuliah? Yang lulus SD, langsung masuk SMP, gag perlu nyabang-nyabang daftarnya. Yang lulus SMP, juga udah mulai pelajaran di SMA, malah udah mulai ada kegiatan kemah-kemah gitu. Kalo lulus SMA? Udah lulusnya paling duluan (di antara SD dan SMP), ngelanjut ke jenjang yag lebih tingginya paling terakhir. Udah gitu, pada ngelanjutin gag Cuma di satu wilayah. Ada yang di luar kota, luar provinsi, luar pulau, bahkan luar negeri! So, sebenernya yang dirindukan SMA-nya, waktu belajarnya, atau kumpul bareng teman lagi? Ngomong-ngomong temen, Jadi teringat memori masa lalu…

Waktu masuk kelas pertama di SMA, I feel so Lonely. Semuanya asing. Papan tulis, meja kursi, jendela, guru, bahkan teman. Itu yang buatku hanya fokus pada pelajaran (note : jaman kelas satu, jaman aku paling rajin. Hehehe). Gag sampai setengah semester, aku udah kenal kepribadian teman-teman sekelasku. Dan kami jadi kayak satu keluarga. Kelas yang semula selalu sepi jadi hidup karena kita saling bisa ngerti kepribadian masing-masing. Aku juga dapat best friend dari situ.

Naik ke Eleven Grade, kami pisah. Tapi masih sering kumpul-kumpul bareng, yang pake embel-embel REUNI X.3. Ini awal mula aku mulai gag serius belajar, kebanyakan maen, kumpul-kumpul, di luar jam sekolah. Coz waktu istirahat kan dipake buat sosialisasi ma temen-temen sekelas yang sekarang.

As Eleven Grader, aku masuk XI IPA 4. Semula, seperti biasa, pada sok jaim gitu. Suasananya tenang, sepi, tegang, serius, bahkan saat gag ada gurunya. Ngerasa gerah saya, ngeliat temen-temen di IPS dan Bahasa bergembira ria. Sempat berkeinginan pindah jurusan, tapi dilarang ortu.

Lama-lama, penghuni SEPAT (read : Sebelas IPA Empat) menampakkan wujud aslinya. Kelas yang semula kayak kuburan, jadi rame kayak ada orkes karena sebagian besar penghuinya hiperaktif. Belum ada satu semester, kelas kami sudah menyabet juara KELAS TER-RAME kategori jurusan IPA. Pernah juga gokilnya ngalahin Juara Bertahan Kelas Tergokil Kategori Semua Jurusan. Yang paling kasihan Sang Wali Kelas yang dapet keluhan dari guru lain.

Semua itu berlanjut sampai kami Third Grader. Makin kompak, makin sering buat onar. Tapi sewajarnya suatu komunitas, pasti ada konfliknya. Pernah konflik itu memecah kami jadi 2 blok, yang kami sebut Blok Barat dan Blok Timur. Perpecahan itu sampai terdengar ke telinga Sang Wali Kelas. Agak lega mungkin karena penghuni kelas gag serame dulu. Kalaupun rame, isinya saling menyindir.

Sang Wali Kelas mulai merasa gag nyaman ma suasana gag sehat ini. Beliau menasehati kami, kalau kami satu keluarga. Kelas ini rumah kami. Dan lain-lain yang intinya gag buat kami sadar. Maklum, sama-sama keras kepala.

Semuanya mulai “agak” mencair saat salah satu anggota BLOK Timur dideportasi dari kelompoknya. Dia mulai akrab denganku yang menurutnya aku anggota BLOK Barat. Padahal aku netral netral aja. Gag mau tahu masalah kedua BLOK itu. Aku kebeneran duduk di sebalah Barat, makanya direkrut BLOK Barat.

Dia –yang dideportasi dari BLOK Timur- cerita-cerita tentang masalah di geng nya. Juga alasan kenapa males bergaul ma BLOK Barat. Ternyata semua itu salah paham, dan gag urusannya dengan BLOK, itu masalah pribadi salah teman kami dari BLOK Barat yang lagi cari teman buat Bala Bantuan. Jahat banget.

Semua udah terungkap. BLOK Timur dengan mudah menerima aku karena semula aku teman mereka, cuman gara-gara duduk di sebelah barat jadi dijauhin. And…semua kembali seperti semula, kecuali 4 orang yang emang biang munculnya BLOK Barat BLOK Timur.

Kelas kami pun tambah gokil, apalagi setelah dipilihnya ketua kelas baru yang merakyat. Hehehe…




Aku kangen ma kalian semua. Kangen saat-saat mau ulangan. Kangen saat-saat diskusi kelompok. Kangen saat-saat jam olahraga. Kangen saat-saat ngebooking kantin (alah). Kangen dengan ulah-ulah kalian saat jam kosong. Apa kalian juga ngerasain hal yang sama kayak aku?